Ini Identitas Mayat yang Ditemukan di Limboto Barat

Proses identifikasi mayat di RS Bhayangkara. [foto:juna/nusantara1]
Proses identifikasi mayat di RS Bhayangkara. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Warga Desa Daenaa, Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, digemparkan oleh penemuan sesosok mayat laki-laki dalam kondisi membusuk di perbukitan desa mereka pada Sabtu 2 Agustus 2025.

Mayat tersebut pertama kali ditemukan oleh Kasmat Husain, warga Desa Ombulo, yang saat itu sedang mengumpulkan kelapa di sekitar bukit. Sekitar pukul 15.00 WITA, ia mencium bau busuk menyengat dari kejauhan dan melihat bagian kaki manusia.

“Saya lihat dari jauh, kepalanya sudah di bawah dan kaki di atas. Kondisinya sudah menghitam,” ungkap Kasmat.

Bacaan Lainnya

Setelah penemuan tersebut, Kasmat segera turun ke rumah dan menyampaikan hal itu kepada ibunya. Informasi itu lalu diteruskan ke seorang anggota TNI yang tinggal di sekitar, hingga akhirnya menyebar ke warga Desa Daenaa dan Ombulo.

Pihak kepolisian dari Polsek Limboto Barat yang menerima laporan langsung menuju lokasi dan melakukan evakuasi. Jenazah korban kemudian dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Gorontalo untuk proses visum dan identifikasi.

Beberapa jam setelah proses identifikasi, mayat tersebut diketahui bernama Safa Yusuf (68), warga Desa Limbato, Kecamatan Tolinggula, Kabupaten Gorontalo Utara. Almarhum diketahui tinggal bersama saudara kandungnya, Swartin Nusi (62), di Dusun IV, Desa Ombulo, Kecamatan Limboto Barat.

Menurut keterangan keluarga, Safa mengalami gangguan kejiwaan sejak lama. Ia mulai tinggal bersama Swartin kurang dari satu tahun terakhir.

“Dia stres karena ditinggal istrinya. Sehari-hari tinggal di gudang samping rumah yang sudah saya bersihkan,” ujar Swartin.

Pada Kamis 31 Juli 2025, sebelum dinyatakan hilang, Swartin sempat memandikan Safa sekitar pukul 09.00 WITA.

“Saya bilang ke dia untuk pakai baju ini, lalu saya pergi ambil rumput untuk makanan sapi. Saat saya kembali, dia sudah tidak ada,” jelasnya.

Keseharian Safa pun terbatas. Ia kerap hanya mengetuk-ngetuk tempat tidur, mengumpulkan kelapa, atau berjalan tanpa arah hingga beberapa kali diantar pulang oleh warga.

Indriyani Husin (34), anak Swartin, mengungkapkan bahwa keluarga telah mencari keberadaan Safa sejak Kamis sore.

“Kami sudah keliling cari, tapi tidak ketemu. Baru hari ini kami dapat kabar,” katanya.

Sementara itu, pihak kepolisian menyatakan masih mendalami penyebab kematian korban. Namun dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh Safa Yusuf. (*)

Pos terkait