Mobil Ambulans Puskesmas Sipatana Tak Siap, Pasien Meninggal

Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]
Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID — Keluarga pasien Havid S. Duto menyesalkan ketidaksiapan ambulans Puskesmas Sipatana Kota Gorontalo saat menangani kondisi gawat darurat yang dialami seorang pasien bernama Havid S. Duto pada Senin 17 November 2025. Pasien yang mengalami sesak napas berat itu meninggal setelah sempat mendapat perawatan di RSUD Aloei Saboe.

Keluarga korban, Risnawati Duto, menjelaskan bahwa sejak siang salah satu anggota keluarga yang bekerja sebagai tenaga kesehatan telah menghubungi sopir ambulans untuk meminta bantuan evakuasi. 

Namun sopir menyampaikan bahwa dirinya sedang berada di Dinas Kesehatan dan ikut pertandingan bola voli sehingga tidak dapat menjemput pasien. Keluarga menunggu sekitar 20 menit, namun ambulans tidak kunjung datang. Kondisi pasien semakin memburuk hingga kesulitan bernapas.

Bacaan Lainnya

Karena respons tidak kunjung diterima, keluarga kemudian menghubungi Kepala Puskesmas Sipatana untuk meminta bantuan penggunaan ambulans. Namun menurut Risnawati, kepala puskesmas menyampaikan bahwa kedua sopir puskesmas sedang bertanding voli sehingga ambulans tidak bisa dioperasikan. Padahal keluarga menilai pasien membutuhkan evakuasi cepat karena membutuhkan oksigen yang tersedia di ambulans.

Risnawati Duto keluarga korban sesak napas yang meninggal. [foto:juna/nusantara1]
Risnawati Duto keluarga korban sesak napas yang meninggal. [foto:juna/nusantara1]
Dalam kondisi terdesak, keluarga akhirnya memutuskan memesan transportasi online untuk membawa pasien ke RSUD Aloei Saboe. Perjalanan sempat terhambat kemacetan akibat pekerjaan jalan hingga sekitar 10 menit.

Setibanya di rumah sakit, pasien masih mendapat pertolongan medis dan dipasang alat bantu napas, namun akhirnya meninggal dunia setelah Magrib.

Sementara itu Kepala Puskesmas Sipatana, Rita Bambang, membantah bahwa pihaknya menolak peminjaman ambulans.

Ia mengatakan ambulans sebenarnya dapat digunakan, namun sopir sedang berada di lapangan voli dan komunikasi dengan pihak keluarga sempat terputus. Rita menyebut kejadian ini hanya miskomunikasi.

Ia menegaskan pelayanan tetap menjadi prioritas dan kegiatan voli hanya berlangsung sekitar satu jam. Ia juga menjelaskan bahwa SOP rujukan mengharuskan pasien terlebih dahulu dibawa ke puskesmas untuk distabilisasi sebelum dirujuk, namun dirinya mengakui kebijakan dapat diambil dalam kondisi gawat darurat.

Pernyataan itu dibantah oleh Lurah Molosipat U, Septian Z. Duto, yang juga keluarga korban. Menurutnya, komunikasi tidak pernah terputus dan sejak awal keluarga justru sudah mendapatkan jawaban yang sama, yakni sopir ambulans sedang bermain voli.

Ia juga menyampaikan bahwa pihak kelurahan telah menyiapkan sopir pengganti untuk membawa ambulans, namun mobil tetap tidak diizinkan dipakai.

“Tak benar ada telepon terputus. Kami sudah tawarkan sopir, tapi ambulansnya tidak diberikan,” ujarnya.

Keluarga berharap kejadian ini tidak terulang dan fasilitas ambulans dapat selalu siaga untuk membantu masyarakat, terutama dalam kondisi gawat darurat. (*)

Pos terkait