Ekspor Gorontalo Turun Jadi 6,86 Juta Dolar AS di September

Ekspor Gorontalo naik 52 persen secara tahunan. [foto:dok/nusantara1]
Ekspor Gorontalo naik 52 persen secara tahunan. [foto:dok/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Nilai ekspor Provinsi Gorontalo pada September 2025 tercatat 6,86 juta dolar AS. Angka ini turun 31,46 persen dibandingkan Agustus yang mencapai 10,01 juta dolar AS.

Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, menyampaikan dalam Berita Resmi Statistik, Rabu 1 Oktober 2025, penurunan ekspor disebabkan menurunnya pengiriman pelet kayu dan molase tebu.

Pada September, ekspor hanya tercatat melalui pelabuhan di Gorontalo sebesar 4,28 juta dolar AS. Sisanya tercatat lewat pelabuhan di luar daerah.

Bacaan Lainnya

Sementara itu, impor Gorontalo pada September nihil. Kondisi ini berbeda dengan Agustus 2025 yang masih mencatat impor senilai 983,35 ribu dolar AS berupa bahan bakar mineral dan sejumlah komoditas lain.

Dengan perkembangan ini, neraca perdagangan Gorontalo tetap surplus. Tren surplus berlangsung konsisten sepanjang 2025.

Secara kumulatif Januari–September 2025, total ekspor Gorontalo sudah menembus 65 juta dolar AS, meningkat signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Sebaliknya, impor turun lebih dari 90 persen.

“Pola ini menunjukkan ekspor Gorontalo masih sangat bergantung pada komoditas primer, khususnya pelet kayu dan tetes tebu,” jelas Dwi.

Selain perdagangan, BPS juga mencatat Gorontalo mengalami deflasi 0,12 persen pada September 2025 dibandingkan Agustus (month to month).

Namun secara tahunan (yoy), Gorontalo justru mengalami inflasi 1,99 persen. Sementara inflasi tahun kalender (Januari–September) tercatat 1,53 persen.

Deflasi dipengaruhi turunnya harga bawang merah, beras, cumi-cumi, angkutan udara, tomat, ikan teri, gula pasir, ikan bubara, pengharum cucian, dan parfum.

Sedangkan inflasi dipicu kenaikan harga ikan layang, emas perhiasan, telur ayam ras, kangkung, pisang, kopi bubuk, cabai rawit, pasir, sigaret putih mesin, dan biskuit.

“Kelompok pengeluaran makanan, minuman dan tembakau mengalami deflasi 0,57 persen, dan kelompok transportasi deflasi 0,14 persen,” ujar Dwi.

Meski begitu, beras masih memberi andil besar terhadap inflasi tahunan sebesar 0,57 persen, diikuti bawang merah 0,55 persen, emas perhiasan 0,41 persen, sigaret kretek mesin 0,17 persen.

Kemudian, ikan layang 0,16 persen, kopi bubuk 0,14 persen, ikan selar dan kelapa masing-masing 0,1 persen, serta minyak goreng 0,09 persen.

“Kelompok pengeluaran yang mengalami inflasi tertinggi yakni perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,38 persen, lalu kelompok makanan, minuman, dan tembakau 4,01 persen, serta pendidikan 2,02 persen,” jelas Dwi.

Sebelumnya, Gorontalo juga sempat mengalami deflasi pada Januari 2025 sebesar 1,64 persen, Mei 1,68 persen, dan Agustus 0,73 persen. (*)

Pos terkait