NUSANTARA1.ID – Desa Dulamayo yang terletak di Kecamatan Telaga Kabupaten Gorontalo, menyimpan sejarah yang kaya akan perjuangan dan harapan. Nama Dulamayo berasal dari ungkapan lokal ‘DULOLO MAYU’ yang berarti ‘Mari Mayor, mari kita pergi Maayu dari tempat ini’.
Ungkapan ini mencerminkan semangat sekelompok masyarakat pada tahun 1816 M yang dipimpin oleh seorang tokoh terhormat bernama Mayu (yang kini dikenal sebagai mandor). Mereka memutuskan untuk meninggalkan Kota Gorontalo karena tidak tahan lagi dengan kekejaman pemerintahan kolonial Belanda.
Pada tahun 1816, banyak warga yang merasa tertekan dan terpenjara oleh sistem penjajahan Belanda. Mayu, yang dihormati oleh masyarakat, bersama kelompoknya bersepakat untuk mencari kehidupan yang lebih baik, jauh dari siksaan pemerintahan Belanda.
Sebagian dari mereka memilih untuk bergerak menuju barat Gorontalo, sementara sebagian lainnya memilih untuk menuju utara, ke hutan belantara yang kini dikenal dengan nama Desa Dulamayo.
Irfan, salah satu warga asli Dulamayo Selatan, pada Jumat (25/4) mengungkapkan kisah yang diwariskan oleh kakeknya.
“Kakek saya dulu menceritakan bahwa mereka kabur dari Kota Gorontalo karena tidak tahan dengan penindasan Belanda. Mereka bersama seorang mayor, yang dikenal dengan nama Mayu, pergi meninggalkan tempat itu dan mencari kehidupan baru. Mereka akhirnya sampai di daerah ini dan memilih untuk menetap di sini,” ungkap Irfan.
Perjuangan mereka untuk bertahan hidup di daerah yang masih berupa hutan belantara menunjukkan tekad dan semangat yang tak kenal lelah. Walaupun kehidupan di sana penuh tantangan, rasa kebersamaan dan semangat juang membawa mereka untuk membangun kehidupan baru di tempat yang sekarang menjadi Desa Dulamayo. Pada masa itu, pemerintahan desa masih sangat sederhana, dengan kepala desa dijuluki ‘Ti, Daa’ dan camat disebut ‘Ti, Wuleya Lolipu’.
Seiring berjalannya waktu, Dulamayo berkembang menjadi desa yang dihormati, tidak hanya sebagai tempat tinggal, tetapi juga sebagai simbol sejarah perjuangan masyarakat Gorontalo melawan penindasan. Nama Dulamayo kini tetap hidup dalam ingatan masyarakat, sebagai simbol keberanian dan harapan yang tak pernah padam.
Bagi warga Dulamayo, desa ini bukan hanya sekadar tempat tinggal, tetapi juga tempat di mana mereka dan leluhur mereka mencari kebebasan, jauh dari tangan penjajah yang menindas. Dulamayo tetap menjadi saksi bisu dari perjuangan mereka, sebuah warisan sejarah yang terus dikenang dan dilestarikan hingga kini. (*)
![Dulamayo Tapal batas Desa Dulamayo Selatan. [foto:juna/nusantara1]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2025/04/Dulamayo.jpg)
![007 DWP Bone Bolango Ketua DWP Bone Bolango, Nurliana Iwan Mustapa saat menghadiri pelaksanaan Upacara HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Lapangan Alun-Alun Bone Bolango, Senin 17 Agustus 2026. [foto:dok/onal/prokopim]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/08/007-DWP-Bone-Bolango-200x112.jpg)
![007 Tonny Terima Bendera Wakil Bupati Gorontalo, Tonny S. Junus saat menerima bendera Merah Putih pada Upacara Penurunan Bendera. [foto:dok/humas]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/08/007-Tonny-Terima-Bendera-200x112.png)
![Pendaki Bawakaraeng Proses evakuasi 8 pendaki Gunung Bawakaraeng oleh Tim SAR gabungan. [foto;dok/basarnas makasssar]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/08/Pendaki-Bawakaraeng-200x112.png)
![006 Irup Ismet Mile Bupati Bone Bolango, Ismet Mile saat menyerahkan bendera Merah Putih kepada Paskibraka untuk dikibarkan pada upacara HUT ke-81 Kemerdekaan RI di Lapangan Alun-Alun Bone Bolango, Senin 17 Agustus 2026. [foto:dok/indra/diskominfo]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/08/006-Irup-Ismet-Mile-200x112.jpeg)
![006 Sofyan Irup Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi saat menyerahkan bendera Merah Putih kepada Paskibraka untuk dikibarkan pada upacara HUT Proklamasi. [foto:dok/kominfo]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/08/006-Sofyan-Irup-200x112.jpg)


