NUSANTARA1.ID – Nama Desa Pentadio Timur, Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, ada tersimpan sejarah panjang tentang perjalanan manusia, perpindahan kerajaan, hingga dinamika sosial yang terjadi berabad-abad silam.
Tak banyak yang tahu, sebelum dikenal dengan nama Pentadio, kawasan ini telah mengalami empat kali perubahan nama.
Cerita bermula sekitar abad ke-6 Sebelum Masehi (SM), saat daratan Gorontalo sebagian besar masih tergenang air. Seiring berjalannya waktu, atas kehendak Tuhan Yang Maha Esa, wilayah ini perlahan mengering dan mulai bisa ditinggali.
Menurut penuturan para tetua adat dan tokoh masyarakat, pada masa itu datanglah kelompok pengembara pertama. Mereka melewati sebuah bukit yang kemudian dikenal sebagai Huntulobohu, dari kata Hilunthu (panas) dan Lopobohu (kering). Tanahnya panas dan gersang, membuat perjalanan mereka terasa berat.
Di kaki bukit, rombongan ini menyaksikan sebuah perkelahian yang cukup sengit. Mereka pun memilih untuk tidak ikut campur dan hanya mengintip dari kejauhan sambil terus berjalan merayap. Karena gerakan mereka mirip seekor biawak, tempat ini kemudian dinamai Biawao.
Tahun 1847, datang kelompok kedua. Kali ini mereka tidak tinggal diam saat melihat perkelahian. Mereka langsung menerobos masuk ke tengah pertikaian dan berhasil menghentikannya. Dari peristiwa itu, wilayah ini dikenal dengan nama Lupoyo, dari kata Lopo (berhenti) dan Oyo (diam).
Seiring waktu, pada 1865, tibalah kelompok ketiga yang dipimpin oleh Raja Tilahunga. Dari atas puncak bukit, rombongan ini menyaksikan hamparan luas tanah dengan berbagai jenis satwa liar.
Daya tarik alam ini membuat sang raja menetapkan tempat tersebut sebagai Lendadiyo, yang berarti ‘tempat yang terhampar’. Namun, karena pengaruh dialek dan kebiasaan tutur masyarakat setempat, nama itu kemudian berubah menjadi ‘Pentadio’.
“Cerita ini bukan sekadar legenda. Ini bagian dari sejarah panjang nenek moyang kami,” ungkap Rahman Adam, Kepala Desa Pentadio Timur, saat ditemui beberapa pekan lalu.
Ia menuturkan, nama Pentadio memiliki makna penting yang mencerminkan perjalanan panjang para pendahulu dalam mencari tempat tinggal yang aman dan subur.
Perjalanan sejarah Pentadio tak berhenti di situ. Seiring perkembangan administrasi wilayah, pada 1986, Desa Pentadio dimekarkan menjadi dua, yaitu Pentadio Barat dan Pentadio Timur.
Rahman Adam menambahkan, masyarakat Pentadio Timur hingga kini masih menjaga nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong yang diwariskan dari para leluhur.
“Masyarakat kami bangga dengan sejarah ini. Setiap generasi kami ingatkan bahwa Pentadio Timur lahir dari perjuangan panjang,” katanya.
Kini, Pentadio Timur terus tumbuh dan berkembang. Di balik pembangunan yang berjalan, kisah tentang Biawao, Lupoyo, Lendadiyo, hingga Pentadio tetap hidup dalam ingatan warga. Sejarah itu menjadi pengikat identitas yang tak lekang oleh waktu. (*)
![Pentadio Timur Kantor Desa Pentadio Timur. [foto:juna/nusantara1]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2025/08/Pentadio-Timur-1.jpg)

![018 Padi Organik Sekda Bone Bolango, Iwan Mustapa saat melakukan penanaman padi organik di lahan Gapoktan Buhuta Sejahtera Olami, Desa Huntu Utara, Bulango Selatan, Kamis 21 Mei 2026 [foto:dok/kominfo]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/05/018-Padi-Organik-200x112.jpeg)


![017 Pangan Ratusan warga memadati BPU Tapa, Kamis 21 Mei 2026, untuk berburu kebutuhan pokok dengan harga terjangkau dalam GPM yang digelar Pemda Bone Bolango [foto:dok/kominfo]](http://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/05/017-Pangan-200x112.jpeg)


