BKSDA Ingatkan Ancaman Serius Penyu di Gorontalo

Diskusi bersama Mapala Belantara FIP UNG di Objek Wisata Oluhuta Paradise, Bone Bolango, Sabtu 16 Agustus 2025. [foto:fikar:nusantara1]
Diskusi bersama Mapala Belantara FIP UNG di Objek Wisata Oluhuta Paradise, Bone Bolango, Sabtu 16 Agustus 2025. [foto:fikar:nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sulawesi Utara, Seksi Konservasi Wilayah II Gorontalo, mengingatkan bahwa populasi penyu di Gorontalo menghadapi ancaman serius, mulai dari aktivitas manusia, sampah laut, hingga perubahan iklim.

Fransisko Tambunan dari BKSDA Wilayah II Gorontalo menyebutkan, penyu hijau kini menjadi salah satu yang paling terancam punah. Meski tren perburuan menurun, ancaman lain justru semakin kompleks.

Diskusi bersama Mapala Belantara FIP UNG di Objek Wisata Oluhuta Paradise, Bone Bolango, Sabtu 16  Agustus 2025. [foto:fikar:nusantara1]
Diskusi bersama Mapala Belantara FIP UNG di Objek Wisata Oluhuta Paradise, Bone Bolango, Sabtu 16 Agustus 2025. [foto:fikar:nusantara1]
“Pernah ditemukan 75–85 butir telur penyu di Gorontalo. Telur itu kemudian dipindahkan ke lokasi penetasan untuk menghindari predator seperti biawak dan burung, juga manusia. Dari jumlah itu, hanya sekitar 50 yang berhasil menetas,” ungkap Fransisco saat diskusi bersama Mapala Belantara FIP UNG di wisata Oluhuta Paradise, Bone Bolango, Sabtu 16 Agustus 2025.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, sampah laut menjadi faktor yang tak kalah berbahaya. Limbah yang mengalir dari sungai menuju laut membuat penyu enggan kembali ke lokasi bertelur.

Selain itu, perubahan iklim juga berpengaruh terhadap jenis kelamin tukik karena suhu pasir yang tidak stabil di Gorontalo.

“Penyu akan menghindari habitat yang tercemar. Kalau ini terus terjadi, akan berdampak pada keberlangsungan populasi mereka,” tegasnya.

Saat ini, lanjut dia, ada empat jenis penyu yang hidup di Gorontalo, yakni penyu sisik, tempayan, belimbing, dan penyu hijau.

Dirinya juga menegaskan, untuk konservasi penyu harus melibatkan semua pihak, tidak hanya pemerintah.

“Penyu adalah indikator kesehatan laut. Kalau penyu terancam, artinya ekosistem laut kita juga sedang bermasalah,” pungkas Francisco. (*)

Pos terkait