NUSANTARA1.ID – Tumpukan kacang goreng yang menggunung di atas tampah besar menjadi pemandangan paling mencolok di sudut Lapangan Portal Tabongo, Desa Ilomangga, Kecamatan Tabongo, Kabupaten Gorontalo, Kamis malam. Di bawah cahaya lampu dan tenda sederhana, Festival Malam Qunut 1447 Hijriah kembali menghadirkan suasana yang hangat dan penuh kebersamaan.
Aroma kacang goreng yang baru diangkat dari wajan bercampur dengan wangi pisang matang yang digantung rapi di lapak-lapak pedagang. Warga berdesakan membeli jajanan khas yang seolah tak pernah absen setiap pertengahan bulan suci Ramadan.
Tradisi Malam Qunut sendiri merupakan warisan turun-temurun masyarakat Gorontalo yang digelar setiap memasuki pertengahan Ramadan. Bagi warga, momentum ini bukan hanya tentang perayaan, tetapi juga ruang mempererat silaturahmi dan memperkuat nilai-nilai religius.
Sejak selepas salat tarawih, masyarakat mulai memadati lapangan. Anak-anak berlarian di antara kerumunan, remaja berbincang santai, sementara para orang tua menikmati suasana sambil membawa pulang kacang goreng dan pisang untuk keluarga.
“Kalau Malam Qunut pasti ramai seperti ini. Alhamdulillah jualan kacang goreng cepat habis. Pembeli datang terus,” ujar Ismail, salah satu pedagang, sambil melayani pembeli yang antre.
Bagi pengunjung, suasana Malam Qunut menghadirkan nuansa berbeda dibanding malam Ramadan lainnya. Ada semangat kebersamaan yang terasa lebih kuat.
“Rasanya selalu rindu dengan suasana seperti ini. Ramai, tapi tetap terasa religius. Anak-anak senang, kami orang tua juga bisa kumpul,” kata Indah, warga Limboto yang datang bersama teman.
Sementara itu, Fandi, pemuda asal Tabongo, menilai tradisi ini bukan sekadar agenda tahunan. “Ini identitas kita. Selain ibadah, ekonomi warga juga bergerak. Pedagang kecil bisa dapat rezeki lebih,” ujarnya.
Festival Malam Qunut tahun ini mengusung tema Menebar Keberkahan Ramadan dalam Harmoni Budaya. Selain doa bersama dan tausiyah, kegiatan ini juga menjadi panggung kebudayaan yang memperlihatkan bagaimana nilai agama dan tradisi lokal berjalan beriringan.
Malam kian larut, namun keramaian di Lapangan Portal Tabongo belum juga surut. Di antara canda, doa, dan aroma kacang goreng yang terus tercium, Malam Qunut kembali menegaskan dirinya sebagai tradisi yang bukan hanya dirayakan, tetapi juga dirindukan. (*)
![Tradisi Qunut1 Festival Malam Qunut di Tabongo dengan jualan kacang dan pisang. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/03/Tradisi-Qunut1.jpg)
![003 Tumbilotohe Fatek Persiapan Tumbilotohe di kampus 4 UNG. [foto:ist]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/03/003-Tumbilotohe-Fatek-200x112.jpg)
![002 Tumbilotohe Persiapan Tumbilotohe di Kawasan Perkantoran Provinsi Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/03/002-Tumbilotohe-200x112.jpg)
![Pantai1 Suasana sore di Pantai Huangobotu [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/01/Pantai1-200x112.jpg)
![Telaga Street Food Teras Talaga Kabupaten Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/01/Telaga-200x112.jpg)
![Pantai Kure Antrian pengunjung di depan toilet kawasan Pantai Kurenai Bone Bolango. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2025/12/Pantai-Kure-200x112.jpg)
![Puncak Puncak Buhudaa di Kecamatan Batudaa Pantai Kabupaten Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2025/12/Puncak-200x112.jpg)

