NUSANTARA1.ID – Menanggapi insiden berdarah di Pasar Sentral, Sabtu 6 Desember 2025 malam, Wali Kota Gorontalo, Adhan Dambea mengungkapkan jika itu bukan persoalan baru. Melainkan berawal dari konflik lama yang sudah terjadi sekitar satu tahun lalu.
Hal Itu disampaikan Adhan Dambea saat memberikan keterangan kepada awak media di pelataran Pasar Sentral Gorontalo, Minggu 7 Desember 2025 malam.
Adhan Dambea menjelaskan, konflik tersebut bermula pada masa kampanye lalu, ketika dirinya mendapat serangan melalui media sosial facebook. Dalam unggahan yang disebut dilakukan oleh Rion Kaluku, Adhan Dambea mengaku dituding dengan berbagai tuduhan, termasuk disebut ‘pembodoh’ serta dituduh memiliki utang sebesar Rp1,25 miliar.
“Postingan itu ada, bahkan sempat di-capture. Saya dituduh macam-macam. Sampai ada pernyataan bahwa Starki itu cuma nama anjing saya di Jakarta. Itu tidak benar,” ujar Adhan Dambea.
Ia menambahkan, dari persoalan tersebut hanya dua pihak yang sempat berpotensi terlibat, yakni Rion Kaluku dan seorang lainnya yang disebut berinisial CBD. Adhan Dambea menyebut, hubungannya dengan CBD sudah lama membaik dan tidak lagi bermasalah.
Namun, insiden di Pasar Sentral terjadi ketika pihak Starki secara tidak sengaja bertemu dengan Rion Kaluku. Menurut Adhan Dambea, kejadian bermula saat Starki berada di belakang area pasar untuk buang air, kemudian terjadi interaksi yang berujung pada ketegangan.
“Awalnya masih ragu, masih ditanya dan dipanggil. Tapi saat dijawab, langsung terjadi pemukulan. Itu yang terjadi,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Adhan Dambea menegaskan bahwa aktivitas di kawasan Pasar Sentral, termasuk food street dan kegiatan UMKM, bukan merupakan kegiatan pemerintah. Pemerintah, kata dia, hanya berperan sebagai fasilitator yang menyiapkan tempat.
“Ini bukan kegiatan pemerintah. Ini murni kegiatan masyarakat. Pemerintah hanya memfasilitasi dan menyiapkan tempat, tidak lebih dari itu,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kawasan Pasar Sentral sebagai ruang publik tumbuh secara alami dari aktivitas masyarakat, yang sebelumnya berkembang dari wilayah Panjaitan, Andalas hingga akhirnya berpusat di Pasar Sentral.
Menanggapi insiden tersebut, Adhan Dambea berharap agar setiap persoalan pribadi dapat diselesaikan secara internal tanpa mengganggu ketertiban umum. Ia juga menyampaikan bahwa peristiwa tersebut telah dilaporkan kepada pihak kepolisian.
“Sebenarnya saya sendiri sudah melapor ke Polda Gorontalo satu tahun lalu terkait pencemaran nama baik, tapi laporan itu tidak pernah diproses. Nanti akan saya sampaikan kembali dalam keterangan resmi,” ungkapnya.
Adhan Dambea menyesalkan lambannya penanganan laporan pada saat itu dan berharap kejadian tersebut dapat menjadi pembelajaran, agar konflik lama tidak berujung pada gangguan keamanan di ruang publik.
Pihak kepolisian sendiri hingga kini masih melakukan pendalaman terkait insiden berdarah di Pasar Sentral Gorontalo. (*)
![Sentral3 Wali Kota Gorontalo Adhan Dambea duduk di pelataran Sentral Kota Gorontalo, Ahad 7 Desember 2025. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2025/12/Sentral3.jpg)
![Wamena Ilustrasi. Perang suku pecah di Wamena, Papua Pegunungan, belasan orang meninggal dunia [foto:dok]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/05/Wamena-200x112.png)
![Narkoba Polisi amankan 11 orang di kampung Narkoba, Samarinda [foto:dok/bareskrim]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/05/Narkoba-200x112.jpeg)

![Kejari Tahan1 Mantan anggota DPRD Kabupaten Gorontalo berinisial HRA, ditahan Kejari Gorontalo. [foto:ist]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/05/Kejari-Tahan1-200x112.jpg)
![Ilustrasi Kecelakaan Ilustrasi. Kecelakaan di Limboto Barat mengakibatkan seorang siswi meninggal dunia di tempat [foto:dok]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/04/Ilustrasi-Kecelakaan-1-200x112.jpg)


