Legenda dan Sejarah Tapaluluo, Desa yang Tumbuh di Tanah Subur Pegunungan

Gerbang masuk Desa Tapaluluo Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]
Gerbang masuk Desa Tapaluluo Kecamatan Telaga Biru Kabupaten Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Pagi hari di Desa Tapaluluo, Kecamatan Telaga Biru, selalu menghadirkan pemandangan yang memikat. 

Kabut tebal menyelimuti perbukitan hijau, seolah membawa pengunjung ke negeri di atas awan. Suasana sejuk dan tenang itu menyimpan kisah sejarah panjang tentang lahirnya desa yang telah berdiri sejak lebih dari satu abad lalu.

Kepala Desa Tapaluluo, Masten Anwar, menuturkan bahwa cikal bakal desa ini bermula pada tahun 1883. Saat itu, dua bersaudara dari Tapa, Dula dan Nani, memutuskan untuk merantau dan mencari lahan baru untuk bercocok tanam.

Bacaan Lainnya

Mereka menempuh perjalanan panjang selama 14 hari melintasi daerah Tapamohengu dan Tapabuoti, hingga akhirnya tiba di tanah lembab dan subur yang diyakini cocok untuk ditanami.

Namun, perjuangan mereka tidak berjalan mulus. Kedatangan mereka memicu penolakan dari kelompok masyarakat pribumi yang dikenal sebagai Polahi. Terjadi perdebatan dan perkelahian hingga akhirnya Dula dan Nani terpaksa mundur dan kembali ke Tapamohengu.

Kisah perjuangan itu menyebar dari mulut ke mulut dan menarik perhatian dua tokoh di Tapamohengu, yakni Rahman dan Rahim. Dengan membawa tiga rekan, mereka melanjutkan usaha membuka lahan dan berhasil menanam padi yang tumbuh subur. Tetapi, sebelum sempat dipanen, mereka kembali diusir oleh kelompok Polahi dan terpaksa meninggalkan lahan itu.

Seiring berjalannya waktu, muncul sosok sakti bernama Suaiba yang penasaran dengan cerita tersebut. Ia bersama lima orang temannya memutuskan untuk melanjutkan perjuangan membuka lahan di wilayah yang telah diusahakan para perintis sebelumnya.

Dalam perjalanan yang panjang dan melelahkan, mereka tiba di sebuah pohon beringin raksasa yang oleh masyarakat Gorontalo disebut Lulu’o. Saat bermalam di sana, mereka mendengar suara burung hantu yang dalam kepercayaan Suaiba dianggap sebagai pertanda baik.

Di bawah pohon beringin itu, Suaiba dan rombongannya mendirikan “Sabua” atau pondok untuk berteduh, kemudian mulai membuka lahan dan menanam berbagai tanaman.

Kali ini, upaya mereka berhasil. Tanaman tumbuh dengan baik, dan meskipun sempat kembali diganggu oleh kelompok Polahi, Suaiba dengan kesaktiannya berhasil mempertahankan lahan dan mencapai kesepakatan damai. Sejak saat itu, kawasan tersebut menjadi tempat yang aman dan ramai dihuni oleh pendatang baru.

Suaiba kemudian memberi nama tempat itu Tapaluluo, yang berasal dari kata Tapa (kampung asal para perintis) dan Lulu’o (pohon beringin tempat mereka pertama kali berteduh dan menaruh sesajian).

Kini, Desa Tapaluluo menjadi kampung yang damai dengan keindahan alam yang mempesona. Meski tidak memiliki hamparan sawah, desa ini terkenal dengan lanskap perbukitannya yang hijau dan udara pegunungan yang sejuk. Setiap pagi, kabut tipis menyelimuti desa, menciptakan panorama yang membuat siapa pun merasa berada di atas awan.

“Tapaluluo tidak hanya menyimpan sejarah panjang tentang perjuangan para leluhur kami, tetapi juga menjadi warisan budaya yang harus dijaga oleh generasi muda. Alamnya yang masih asri adalah anugerah yang membuat desa ini istimewa,” kata Masten Anwar, Kepala Desa Tapaluluo.

Bagi pengunjung yang datang, Tapaluluo bukan sekadar desa dengan sejarah panjang, tetapi juga tempat yang menawarkan ketenangan dan keindahan alam yang masih alami. Kabut pagi yang menari di antara pepohonan menjadi sambutan khas bagi siapa saja yang menapaki jalan menuju desa tua yang lahir dari hutan rimba ini. (*)

Pos terkait