Dinas Perpustakaan Siapkan Program Pengumpulan Naskah Kuno dan Digitalisasi

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]
Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID — Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo menyiapkan sejumlah program strategis pada 2026, salah satunya pengumpulan naskah-naskah kuno yang selama ini berada di tangan masyarakat dan belum terdokumentasi secara baik.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo, Doni Lahati, mengatakan banyak naskah kuno peninggalan leluhur Gorontalo yang hingga kini masih disimpan oleh keluarga dan berpotensi rusak atau musnah apabila tidak segera dikumpulkan dan didigitalisasi.

“Banyak naskah kuno yang tidak terekspos, tidak terdigitalisasi, bahkan belum terbukukan dengan baik. Jika tidak segera kita kumpulkan, ada kekhawatiran naskah-naskah tersebut bisa musnah,” ujar Doni saat ditemui awak media, Selasa 20 Januari 2026.

Bacaan Lainnya

Ia menjelaskan, pada tahap awal pihaknya akan melakukan pengumpulan naskah kuno dari masyarakat. Setelah itu, naskah tersebut akan didigitalisasi dan dijadikan koleksi museum sebagai upaya memperkaya khasanah sastra dan budaya Gorontalo.

Menurut Doni, sejumlah naskah kuno yang telah ditemukan berasal dari abad ke-18 hingga ke-19 dan sebagian besar ditulis menggunakan huruf Arab Pegon, karena pada masa tersebut huruf Latin belum digunakan secara luas. Oleh karena itu, tahap lanjutan dari program ini adalah penerjemahan agar isi naskah dapat dipahami oleh masyarakat luas, khususnya generasi muda.

“Naskah-naskah ini merupakan bagian dari budaya dan cerita rakyat Gorontalo yang perlu kita jaga. Generasi hari ini harus tahu bahwa leluhur kita memiliki karya sastra yang luar biasa,” jelasnya.

Selain pengumpulan naskah kuno, Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Gorontalo juga merencanakan pelaksanaan lomba bertutur bagi peserta didik sebagai upaya meningkatkan literasi sejak usia dini serta menggali potensi budaya di tingkat kecamatan dan desa.

Di sisi lain, pembinaan perpustakaan di berbagai sektor juga akan terus dilakukan agar perpustakaan dapat berfungsi sebagai pusat sumber ilmu pengetahuan dan pembangunan literasi masyarakat.

Menjawab tantangan era digital, Doni menyebut pihaknya telah merancang konsep digitalisasi layanan perpustakaan, salah satunya melalui pemanfaatan barcode di ruang publik seperti warung kopi, sehingga masyarakat dapat mengakses daftar buku secara mudah melalui gawai.

“Kami sudah memiliki perencanaan ke arah digitalisasi, tentu dengan dukungan anggaran. Ini bagian dari upaya menyesuaikan layanan perpustakaan dengan perkembangan zaman,” pungkasnya. (*)

Pos terkait