Pasutri Tuna Wicara Nyaris Terjebak dalam Kobaran Api

Ferlan Ibrahim (kanan) didampingi juru bahasa Yusril Limbanadi (kiri) saat menjelaskan kronologi dirinya bersama keluarga saat keluar dari maut, Selasa, 16 Desember 2025. [foto:fikar/nusantara1]
Ferlan Ibrahim (kanan) didampingi juru bahasa Yusril Limbanadi (kiri) saat menjelaskan kronologi dirinya bersama keluarga saat keluar dari maut, Selasa, 16 Desember 2025. [foto:fikar/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Sepasang suami istri tuna wicara, Ferlan Ibrahim dan Rahayu Liando, nyaris terjebak kebakaran yang melanda permukiman padat di Jalan Madura, Kelurahan Dulalowo, Kecamatan Kota Tengah, Kota Gorontalo, Selasa, 16 Desember 2025.

Api sudah mulai melalap rumah korban saat warga sekitar menyadari bahaya dan berupaya memberi peringatan.

Sejumlah warga mengaku sempat mengetuk pintu rumah korban, namun tidak mendapat respons karena keduanya tidak bisa mendengar.

Bacaan Lainnya

Situasi menjadi kritis ketika asap semakin tebal. Warga akhirnya mendobrak pintu rumah dan mengevakuasi Ferlan, Rahayu, serta bayi mereka keluar dari bangunan yang mulai terbakar.

“Warga dobrak pintu karena api sudah dekat. Kalau terlambat sedikit, bisa terjebak,” kata Ferlan melalui juru bahasa isyarat, Yusril Limbanadi.

Dalam peristiwa ini, rumah korban hangus terbakar. Seluruh harta benda tidak sempat diselamatkan. Ferlan dan istrinya hanya keluar dengan pakaian yang melekat di badan.

Kebakaran tersebut memicu kepanikan warga sekitar. Hingga berita ini diterbitkan, penyebab kebakaran masih dalam penyelidikan pihak berwenang.

melalui juru bicara isyaratnya, Ferlan menjelaskan, saat kebakaran terjadi mereka berada di lantai dua rumah bersama dua anaknya. Karena tidak dapat mendengar, mereka tidak mengetahui adanya peringatan dari warga yang mengetuk pintu rumah.

“Mereka tidak menyadari ada ketukan pintu. Warga kemudian mendobrak pintu karena asap sudah masuk ke dalam rumah,” kata Yusril Limbanani saat menerjemahkan penjelasan pasangan tersebut.

Menurut penuturan keduanya, api sudah berkobar cukup besar di bagian atas rumah sehingga mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barang, termasuk pakaian dan perlengkapan bayi. Warga kemudian membantu mengevakuasi mereka beserta dua anaknya yang masing-masing berusia 4 tahun dan 5 bulan.

“Yang bisa diselamatkan hanya anak-anak. Barang-barang seperti ijazah, uang, laptop, printer, handphone, kulkas, televisi, dan pakaian seluruhnya ludes terbakar,” ujar Yusril menerjemahkan bahasa isyarat korban. (*)

Pos terkait