NUSANTARA1.ID – Salah satu sudut di Kecamatan Telaga Biru, Kabupaten Gorontalo, berdiri sebuah desa yang menyimpan kisah panjang perjalanan leluhur. Desa Talumelito, begitu namanya.
Bagi masyarakat setempat, nama ini bukan sekadar penanda wilayah administratif, melainkan sebuah simbol dari keberanian dan tekad para pendahulu mereka.
Asal-usul nama Talumelito berasal dari ungkapan dalam bahasa Gorontalo kuno, ‘Otaluwanto Mola Uyilelito’, yang berarti ‘kita menuju tanah di bawah arus banjir’. Ungkapan ini lahir dari perjalanan penuh tantangan yang ditempuh oleh satu kelompok masyarakat Gorontalo-Limboto di masa lampau.
Cerita bermula dari sosok Pohutama, seorang penghulu bersama istrinya Teni Huwata dan tujuh anak mereka. Dengan diiringi para pengikut setia, mereka melakukan perjalanan ke utara, meninggalkan tempat asal untuk mencari wilayah baru yang lebih layak untuk ditinggali.
Perjalanan itu membawa mereka ke sebuah kawasan berbukit yang saat itu masih hutan belantara. Tempat tersebut dikenal sebagai ‘Wanggabea’, sebuah nama yang berarti ‘cabang-cabang kayu yang saling bertindihan dan berbunyi ketika diterpa angin’.
“Tempat itu dulu penuh dengan pepohonan besar. Kalau angin bertiup, bunyi gesekan cabang-cabang kayunya terdengar dari kejauhan,” tutur Wilson Yantu, Kepala Desa Talumelito, saat ditemui pada Kamis 26 Juni 2025 lalu.
Seiring berjalannya waktu, nama Wanggabea berubah menjadi Wuwabu, dan kemudian disingkat menjadi Wangea, yang hingga kini masih dikenal masyarakat.
Di tengah perjalanan, salah seorang anggota rombongan sempat bertanya kepada penghulu Pohutama, ‘Ito botia talu-talu odeutonu’?, yang berarti ‘Tujuan kita ke mana’
Dengan tenang dan penuh keyakinan, Pohutama menjawab, ‘Otaluwando Mola Uyilelito Botimola’, yang kemudian oleh generasi berikutnya disederhanakan menjadi ‘Talumelito’.
Bagi Wilson Yantu dan warga desa lainnya, cerita ini menjadi warisan berharga yang terus diceritakan dari generasi ke generasi.
“Sejarah ini bukan sekadar dongeng orang tua, tapi bagian dari identitas kami sebagai warga Talumelito. Ini adalah perjalanan leluhur kami yang penuh perjuangan,” ujarnya.
Kini, meski desa ini telah berubah dengan berbagai pembangunan dan perkembangan zaman, nilai-nilai sejarah dan budaya dari masa lalu tetap hidup dalam setiap sendi kehidupan masyarakat Talumelito. (*)
![Sejarah Desa1 Kantor Desa Talumelito. [foto:juna/nusantara1]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2025/07/Sejarah-Desa1.jpg)

![003 Sumbar Bupati dan Wakil Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi dan Tonny S. Junus bertemu dengan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi Ansharullah. [foto:dok/kominfi]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/07/003-Sumbar-200x112.jpg)
![003 Menajemen Talenta Sekda Bone Bolango, Iwan Mustapa saat mengikuti zoom meeting bersama Kanwil Regional BKN Manado terkait Pra Ekspose Manajemen Talenta Jumat 3 Juli 2026. [foto:dok/kominfo]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/07/003-Menajemen-Talenta-200x112.jpeg)
![002 Pelepasan MTQ Sebanyak 36 kafilah dari Bone Bolango yang siap mengikuti MTQ tingkat provinsi. [foto:dok/kominfo]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/07/002-Pelepasan-MTQ-200x112.jpeg)
![002 Sekda Pencanangan Sekda Kabupaten Gorontalo, Sugondo Makmur saat mencanangkan Pembangunan Zona Integritas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. [foto:dok/kominfo]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/07/002-Sekda-Pencanangan-200x112.jpeg)
![001 Forum APKASI Bupati Gorontalo, Sofyan Puhi (keempat dari kiri) saat menghadiri Forum APKASI di Deli Serdang, Sumut. [foto:dok/kominfo]](https://nusantara1.id/wp-content/uploads/2026/07/001-Forum-APKASI-200x112.png)

