Jelang Lebaran Ketupat, Warga Gorontalo Ramai Jualan Bambu dan Daun Woka

Bambu yang dijual untuk nasi bulu di Desa Yosonegoro. [foto:juna/nusantara1]
Bambu yang dijual untuk nasi bulu di Desa Yosonegoro. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Menjelang perayaan Lebaran Ketupat yang jatuh sepekan setelah Idulfitri, masyarakat sekitar pertigaan bundaran Tugu Ketupat, Desa Yosonegoro (Kampung Jawa), Kecamatan Limboto Barat, Kabupaten Gorontalo, mulai ramai berjualan bambu dan daun woka sejak Jumat (4/4).

Pantauan awak media pada Ahad (6/4) menunjukkan suasana di sekitar lokasi cukup ramai. Warga menjual perlengkapan seperti bambu untuk nasi bulu (nasi yang dimasak di dalam bambu) dan daun woka yang digunakan sebagai pembungkus dodol, makanan khas yang disajikan saat Lebaran Ketupat.

Bobi, salah satu penjual bambu asal Desa Daenaa, mengatakan bahwa ia sudah mulai berjualan sejak tiga hari terakhir.

Bacaan Lainnya

“Kita jual bambu untuk nasi bulu, satu batang harganya Rp 10.000. Sedangkan daun woka dijual 100 lembar seharga Rp 3.000. Semuanya kita ambil dari hutan,” ujarnya.

Ia menambahkan, aktivitas jualan bambu dan daun woka ini merupakan tradisi yang dilakukan setiap tahun menjelang Hari Ketupat.

“Ini sudah menjadi tradisi di Gorontalo. Hari ini saja kami sudah menjual sekitar 200 batang bambu dan 50 lembar daun woka, tinggal 50 lembar lagi yang belum terjual,” jelasnya.

Bobi pun mengajak masyarakat yang ingin merayakan Hari Ketupat untuk segera membeli perlengkapan tersebut di perempatan Tugu Ketupat, Desa Yosonegoro.

Perayaan Lebaran Ketupat sendiri selalu digelar satu minggu setelah Idulfitri dan menjadi bagian penting dari tradisi budaya masyarakat setempat. (*)

Pos terkait