Inflasi Gorontalo Tembus 5,48 Persen, DPRD Minta Pusat Tambah Stok CBP 

Pertemuan gabungan komisi bersama Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag RI. [foto:dok/humas]
Pertemuan gabungan komisi bersama Dirjen Perdagangan Dalam Negeri, Kemendag RI. [foto:dok/humas]

NUSANTARA1.ID –  Inflasi Provinsi Gorontalo tercatat paling tinggi. Tembus 5,48 persen, jauh di atas rata-rata nasional 3,26 persen. 

Kondisi ini membuat gabungan Komisi I dan II DPRD Provinsi Gorontalo terbang ke Jakarta, untuk melakukan koordinasi dengan Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri, Kementerian Perdagangan RI, Kamis 22 Oktober 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Direktorat Bina Pasar Dalam Negeri itu diterima Analis Perdagangan Ahli Muda, Irfan Kurniawan.

Anggota Komisi II DPRD Gorontalo, Fadli Hasan, mengungkapkan, pemicu inflasi adalah sembilan bahan pokok. Yang paling mencolok adalah cabai rawit yang kini dijual Rp140 ribu hingga Rp150 ribu per kilogram. Selain itu, harga beras medium untuk regional A juga masih tinggi.

Bacaan Lainnya

“Ini harus ada intervensi. Tak bisa parsial,” kata Fadli.

Menurut Fadli, stabilisasi harga harus melibatkan Bulog dan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Apalagi stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) di Gorontalo masih ada sekitar 10.500 ton. Stok itu dinilai bisa menjadi penahan gejolak harga.

DPRD juga meminta pemerintah pusat menambah stok CBP ke Gorontalo. Mengingat kebutuhan pangan akan melonjak saat Natal dan Tahun Baru, hingga Ramadan tahun depan.

Pihak Kemendag, kata Fadli, memberikan sejumlah masukan teknis untuk stabilisasi harga dan siap memfasilitasi koordinasi dengan Bulog dan Bapanas. DPRD menegaskan, stabilitas harga pangan adalah kunci menjaga daya beli masyarakat. Karena itu, pemantauan pasar harus dilakukan secara berkelanjutan. (*)

Pos terkait