Tonny Junus Ajak Warga Jaga Persatuan di Momentum Malam Qunut

Wakil Bupati Gorontalo Tonny Junus saat sambutan di Festival Qunut Tabongo. [foto:juna/nusantara1]
Wakil Bupati Gorontalo Tonny Junus saat sambutan di Festival Qunut Tabongo. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Tradisi Malam Qunut kembali digelar masyarakat Kabupaten Gorontalo dalam rangkaian Festival Qunut 1447 Hijriah yang berlangsung di Lapangan Portal Tabongo, Desa Ilomangga, Kecamatan Tabongo, Kamis malam 5 Februari 2026.

Kegiatan tahunan tersebut dihadiri Wakil Bupati Gorontalo, Tonny Junus, yang dalam sambutannya menyebut Malam Qunut sebagai tradisi turun-temurun yang terus dijaga masyarakat setiap memasuki pertengahan bulan suci Ramadan.

Menurut Tonny, Malam Qunut bukan sekadar agenda seremonial, tetapi memiliki makna religius dan sosial yang kuat. Tradisi ini digelar menjelang pertengahan Ramadan atau yang dikenal masyarakat setempat sebagai bulan Sabadang, dengan menghadirkan nuansa keagamaan yang kental sekaligus mempererat kebersamaan warga.

Bacaan Lainnya

“Tema yang diangkat tahun ini, Menebar Keberkahan Ramadan dalam Harmoni Budaya, mengandung makna bahwa Ramadan bukan hanya momentum meningkatkan kualitas ibadah, tetapi juga menyebarkan kebaikan, memperkuat kepedulian sosial, dan menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat,” ujar Tonny.

Ia mengajak seluruh masyarakat Kabupaten Gorontalo menjadikan momentum Ramadan sebagai sarana introspeksi diri, memperbaiki kualitas ibadah, serta memperkuat persatuan dan kerukunan antarwarga.

“Ramadan adalah bulan pembentukan karakter, bulan yang mengajarkan kesabaran, keikhlasan, dan kebersamaan. Nilai-nilai ini harus terus kita hidupkan dalam kehidupan sehari-hari,” tambahnya.

Selain bernilai spiritual dan budaya, pelaksanaan Malam Qunut juga membawa dampak ekonomi bagi masyarakat. Di sekitar lokasi kegiatan, warga tampak memanfaatkan momentum tersebut dengan berjualan berbagai makanan tradisional seperti kacang dan pisang, yang menjadi sajian khas saat perayaan berlangsung.

Festival Qunut sendiri rutin dilaksanakan setiap memasuki pertengahan Ramadan dan menjadi salah satu agenda budaya-religius yang dinantikan masyarakat Gorontalo setiap tahunnya. Pemerintah daerah berharap tradisi ini tetap lestari sebagai bagian dari identitas budaya yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan. (*)

Pos terkait