‘Titik Balik’, Seruan Dakwah yang Merangkul Disabilitas di Gorontalo

Kajian 'Titik Balik' oleh Yayasan Gorontalo Baik Indonesia. [foto:juna/nusantara1]
Kajian 'Titik Balik' oleh Yayasan Gorontalo Baik Indonesia. [foto:juna/nusantara1]

NUSANTARA1.ID – Dakwah yang ramah disabilitas menjadi sorotan utama dalam kegiatan Titik Balik, kajian charity event yang diselenggarakan Yayasan Gorontalo Baik Indonesia di Asrama Haji Gorontalo, Sabtu 10 Januari 2026.

Kajian tersebut menghadirkan pendakwah nasional Habib Husein Ja’far Al Hadar, dengan peserta yang sebagian diantaranya merupakan sahabat tunarungu dan tunawicara. Puluhan peserta disabilitas tampak mengikuti kegiatan tersebut, didampingi juru bicara bahasa isyarat yang disediakan panitia untuk memastikan materi dakwah dapat diakses secara inklusif. Kegiatan ini juga dihadiri ratusan tamu undangan dari berbagai kalangan.

Dalam kajiannya, Habib Husein Ja’far menyampaikan sejumlah pesan reflektif. Ia menekankan bahwa setiap pemberian Allah sejatinya telah sempurna, tinggal bagaimana manusia menyikapinya dengan cara menikmati dan mensyukurinya.

Bacaan Lainnya

“Seharusnya pemberian Allah itu tinggal bagaimana cara kita menikmatinya dan bagaimana cara kita mensyukurinya,” ujar Habib Husein.

Selain itu, ia menegaskan bahwa perubahan besar dalam kehidupan berawal dari ketulusan hati. Menurutnya, manusia perlu menata hati agar senantiasa tulus dalam menerima setiap ketetapan Allah.

“Perubahan besar itu dimulai dari hati yang tulus. Karena itu, tuluskan hati dan terimalah segala ketetapan Allah,” katanya.

Habib Husein juga mengajak peserta memahami makna berhenti dalam kehidupan. Ia menyampaikan bahwa momen besar sering lahir dari keberanian untuk berhenti sejenak, bukan sebagai bentuk pelarian, melainkan untuk beristirahat, bermuhasabah, dan memperhatikan kembali arah hidup.

“Kita berhenti bukan karena lari, tapi karena ingin berhenti sejenak untuk istirahat, muhasabah, dan memperhatikan,” tambahnya.

Usai kajian, Habib Husein Ja’far turut menyoroti masih minimnya dakwah yang ramah disabilitas. Ia mengungkapkan, salah seorang peserta tunarungu menyampaikan bahwa pemahaman agama dirinya dan teman-temannya kerap keliru karena dakwah belum sepenuhnya inklusif bagi penyandang disabilitas.

Menurutnya, Islam adalah agama rahmatan lil ‘alamin, termasuk bagi penyandang disabilitas. Ia juga mengingatkan bahwa awal Surah ‘Abasa dalam Al-Qur’an menjadi peringatan penting bagi umat Islam agar tidak mengabaikan kelompok disabilitas.

Kegiatan Titik Balik ini turut dihadiri Habib Salim bin Abdurrahman Al Jufri, Ustad Rosman Manto selaku moderator, puluhan peserta disabilitas, serta ratusan tamu undangan lainnya. (*)

Pos terkait