Lapangan Kerja di Gorontalo Meningkat, Pengangguran Menyusut

Ilustrasi: Lapangan kerja di Gorontalo mengalami peningkatan. /ist
Ilustrasi: Lapangan kerja di Gorontalo mengalami peningkatan. /ist

NUSANTARA1.ID — Jumlah pengangguran di Provinsi Gorontalo terus menunjukkan penurunan. Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Gorontalo mencatat, tingkat pengangguran terbuka (TPT) pada Maret 2025 berada di angka 4,09 persen.

Angka itu menunjukkan penurunan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya yang tercatat sebesar 4,39 persen.

Plt Kepala BPS Provinsi Gorontalo, Dwi Alwi Astuti, dalam rilis resminya menjelaskan bahwa dari total 911,55 ribu penduduk usia kerja, sekitar 701,85 ribu masuk kategori angkatan kerja.

Bacaan Lainnya

Dari jumlah tersebut, sebanyak 673,15 ribu orang bekerja, sementara 28,7 ribu lainnya masih menganggur.

“Penurunan TPT ini menunjukkan tren positif bahwa semakin banyak penduduk usia kerja yang terserap di pasar tenaga kerja, meskipun masih ada beberapa tantangan dalam distribusi sektor kerja,” ujar Dwi melalui rilis BPS, Jumat, 25 Juli 2025.

Mayoritas penduduk Gorontalo yang bekerja masih terserap di sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan yang mencatat angka sebesar 38,93 persen.

Sektor ini masih menjadi tulang punggung ekonomi lokal, meski sektor perdagangan dan industri rumah tangga mulai menunjukkan peningkatan partisipasi tenaga kerja.

Sementara itu, Dwi juga mengungkapkan distribusi penduduk bekerja berdasarkan jenis pekerjaan menunjukkan pekerja informal masih mendominasi, yaitu mencapai 62,26 persen. Sebaliknya, hanya sekitar 37,74 persen yang tergolong sebagai pekerja formal.

Dalam hal tingkat pendidikan, angkatan kerja masih didominasi oleh lulusan SMP ke bawah. Penduduk yang bekerja dengan pendidikan SD ke bawah berjumlah 35,31 persen, disusul SMP sebesar 21,85 persen, dan SMA 20,77 persen.

“Namun demikian, ada pergeseran positif dalam jumlah pekerja lulusan universitas yang mengalami peningkatan. Artinya, peluang kerja untuk lulusan pendidikan tinggi mulai terbuka, walau tantangan kompetensi dan kebutuhan kerja masih ada,” ungkap dia.

Meskipun penurunan tingkat pengangguran cukup signifikan, struktur ketenagakerjaan di Gorontalo masih membutuhkan penguatan pada sektor formal.

Pemerintah daerah pun diharapkan terus mendorong investasi sektor riil agar mampu menyerap tenaga kerja secara optimal, khususnya untuk kelompok usia produktif dan lulusan pendidikan tinggi.

BPS juga menyoroti pentingnya penguatan keterampilan dan pelatihan kerja, mengingat lebih dari 42 persen penduduk bekerja masuk kategori setengah menganggur dan pekerja paruh waktu, yang umumnya berstatus informal. (*)

Pos terkait